PEMKOT SIANTAR KOMITMEN JADI KOTA RAMAH ANAK: DARI NARASI KE AKSI NYATA

_Peringatan HAN 2026 Jadi Momentum Evaluasi, Bukan Sekadar Seremoni_

PEMATANGSIANTAR – PelitaSemesta.com – Pemerintah Kota Pematangsiantar menegaskan komitmennya membangun lingkungan yang ramah anak. Bukan hanya lewat slogan, tapi melalui sinergi lintas sektor: pemerintah, sekolah, dunia usaha, ormas, media, hingga keluarga.

Komitmen itu disampaikan langsung Wali Kota Wesly Silalahi SH MKn saat membuka Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Gedung Serbaguna Pemko, Jumat (24/07/2026) pagi. Turut mendampingi, Ketua TP PKK Ny Liswati Wesly Silalahi.

“Bukan Seremoni, Ini Soal Masa Depan”

Wesly menegaskan, Hari Anak Nasional bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah cermin untuk mengukur sejauh mana kita menepati janji melindungi generasi penerus.

Dengan mengusung tema nasional _”Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”_, Wesly mengingatkan: nasib 20 tahun Siantar ke depan ditentukan oleh cara kita memperlakukan anak-anak hari ini.

“Anak adalah amanah dan investasi terbaik bangsa. Mereka berhak hidup layak, tumbuh sehat, sekolah berkualitas, bermain aman, dan bersuara. Tugas kita memastikan hak itu tidak berhenti di atas kertas,” tegas Wesly.

Tantangan di Era Digital dan Ruang Publik

Di tengah derasnya arus digital, Wesly menyoroti peran orang tua sebagai “benteng pertama”. Anak hari ini tumbuh bersama gawai. Tanpa pendampingan, mereka rentan terpapar kekerasan, perundungan siber, hingga konten negatif.

“Kepada orang tua: jadilah pendidik pertama. Beri kasih sayang, teladan, dan ruang bicara. Kepada anak-anak: belajarlah sungguh, hormati guru dan orang tua, jauhi narkoba dan kekerasan. Jika ada yang menyakiti, jangan diam. Kalian tidak sendiri. Pemko hadir untuk melindungi,” pesannya.

Ini penting. Data KPAI dan Dinas P3A menunjukkan kasus kekerasan pada anak masih jadi PR besar di banyak daerah. Siantar harus jadi contoh bahwa pencegahan lebih utama dari penanganan.

Dari Komitmen ke Langkah Konkret

Usai sambutan, acara diisi dengan hal-hal yang menyentuh langsung anak:

1. Talkshow “Bincang Seputar Anak” – Membuka ruang dialog antara anak, orang tua, dan pembuat kebijakan.

2. Penyerahan Kartu Identitas Anak (KIA)- Simbol negara hadir sejak dini. KIA bukan hanya identitas, tapi akses ke layanan dasar.

3. Pembacaan Puisi oleh Siswa UPTD SMPN 2 – Mengingatkan kita, suara anak harus didengar dan diapresiasi.

Hadir juga jajaran Pemko: Staf Ahli Dra Happy Oikumenis Daely, Kadis P3A Agustina Bulan Lasma Sihombing, Kadinkes Urat Hatoguan Simanjuntak, Kadisdik Syaiful Rizal, Dirut RSUD dr Djasamen Saragih drg Irma Suryani, serta para kepala sekolah.

Catatan Kritis: Saatnya “Kota Layak Anak” Naik Kelas

Komitmen sudah ada. Sekarang tantangannya: implementasi.

1. Anggaran: Apakah pos untuk P3A, sekolah ramah anak, dan ruang bermain publik sudah memadai?

2. Data: Kita butuh data kasus per kecamatan. Biar penanganan tidak general.

3. Partisipasi Anak: Libatkan Forum Anak Siantar dalam merancang kebijakan. Karena mereka yang paling tahu kebutuhannya.

Sebagaimana penutup pidato Wesly: _”Ketika kita menyayangi dan melindungi anak hari ini, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan bangsa dan terwujudnya Kota Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.”_

Kalimat itu harus jadi kontrak sosial. Bukan hanya diucapkan di podium, tapi dirasakan anak di sekolah, di jalan, di rumah.

Selamat Hari Anak Nasional 2026.

Mari kita jaga, karena masa depan Siantar ada di genggaman mereka hari ini. (Efendi Saragih)

 

 

-    -    -