Jakarta- PelitaSemesta.com – Gerakan “Reformasi Jilid Dua” yang digerakkan oleh kaum Neolib dengan menunggangi Aksi BEM UI dan aliansinya telah resmi dinyatakan gagal total. Kegagalan ini bukan karena tekanan aparat, melainkan karena gerakan ini kehilangan legitimasi rakyat sejak hari pertama.

Narasi Medsos vs. Realitas Rakyat
Kampanye di media sosial yang masif dan terstruktur ternyata tidak berbanding lurus dengan dukungan riil di lapangan. Mayoritas rakyat Indonesia justru melihat gerakan ini sebagai ancaman stabilitas, bukan solusi. Alih-alih membicarakan transisi kekuasaan, gerakan ini kehilangan momentumnya sendiri karena isu yang paling dominan di masyarakat bukanlah “penggulingan”, melainkan gejolak ekonomi: pelemahan Rupiah, kenaikan harga BBM Pertamax, dan evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ironisnya, tuntutan ekonomi rakyat justru mengubur agenda terselubung untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Prabowo yang sah dan konstitusional.
Dua Faktor Penyebab Ambruknya Agenda
Pertama, Stabilitas Negara Terjaga. Di bawah komando Presiden Prabowo, situasi keamanan dan pemerintahan tetap terkendali. Tidak ada ruang kosong untuk kekacauan yang bisa dieksploitasi.
Kedua, Rakyat Memilih Mengawal. Mayoritas elemen bangsa — dari Umat Islam, kaum buruh, aktivis nasionalis, hingga partai politik pendukung pemerintah — sepakat satu suara: mengawal pemerintahan sah sampai tuntas, bukan menjatuhkannya.
Kesesatan Sejarah yang Memalukan
Menyamakan pemerintahan Prabowo hari ini dengan rezim otoritarian Soeharto adalah kesesatan sejarah yang memalukan. Kaum Neolib ini mengalami amnesia politik. Prabowo dipilih langsung oleh 58% rakyat Indonesia melalui Pilpres 2024 yang sah dan demokratis.
“Teori mandat demokrasi tegas menyatakan: pergantian kekuasaan hanya melalui kotak suara, bukan di jalanan.”
Dungunya Membonceng Isu Ekonomi
Lebih dungu lagi, mereka membonceng isu ekonomi yang faktanya tidak bisa diselesaikan dengan demo:
– Nilai tukar Rupiah tertekan oleh kebijakan moneter global The Fed — bukan kebijakan dalam negeri.
– Kenaikan Pertamax tidak membebani rakyat kecil yang mayoritas menggunakan Pertalite.
– Untuk MBG, Presiden Prabowo justru membuktikan keberpihakan dengan mencopot dan memenjarakan 3 pimpinan BGN yang terbukti korup.
Titik Fatal: Tidak Ada Figur Alternatif
Mau gulingkan pemerintahan, tapi tidak punya pemimpin pengganti yang mumpuni, paham birokrasi, dan mampu menjaga pertahanan-keamanan negara. Memaksakan Reformasi Jilid Dua tanpa alternatif yang jelas adalah resep bunuh diri massal bagi bangsa.
Kita sudah membayar mahal dari luka Reformasi 1998. Tidak boleh terulang.
Peringatan Keras
Menyerahkan nasib ekonomi ke tangan amatiran yang jago koar-koar di medsos hanya akan membawa Indonesia ke jurang kehancuran.
“Keberanian tanpa perhitungan rasional bukanlah heroisme, melainkan kebodohan absolut yang mengorbankan masa depan ratusan juta rakyat.”
Seruan Bersatu
Karena itu, rakyat waras harus bersatu mematahkan agenda ini sebelum menjadi kanker sosial. Program Strategis Nasional (PSN) dan perbaikan ekosistem bisnis era Prabowo harus terus dikawal. Jangan dikorbankan demi syahwat politik kaum Neolib Pro-Oligarki.(editor: DTT)
T. Helmi
Ketua Umum Rampas Setia 08 Berdaulat













-
-